Monday, August 30, 2010

Dataku Sayang, Dataku Malang



Beberapa minggu lalu, seorang teman, dari sebuah vendor gadget, dengan bangga menunjukan produk terbarunya pada saya. Menurutnya ini adalah sebuah modem yang akan menjadi solusi orang melakukan akses internet secara bersama-sama dimana saja dan kapan saja. Perangkat ini dapat disebut sebagai sebuah modem yang juga memiliki kemampuan sebagai router Wi-Fi . Atau dengan kata lain dapat disebut sebagai Modem Mobile Hot Spot. Jadi, saat satu orang mengaktifkan modem tersebut di laptop maka lima gadget diselilingnya, tentu saja yang Wi-Fi enable, dapat juga melakukan akses internet via modem tersebut. Luar biasa bukan?

Namun, dengan spontan, saya langsung berkomentar, “Modemnya sih canggih, namun bagaimana dengan kualitas koneksi data dari operatornya? Jangankan melakukan akses internet bersama-sama sebanyak 5 orang, satu orang saja kita sering dapat masalah.” demikian saya mengomel .

Tentu saja omelan diatas berdasarkan pengalaman yang saya alami saat menjadi pelanggan data tiga operator telekomunikasi di indonesia. Saya seringkali ketawa kecut bila ada promosi gadget yang gencar mengatakan bahwa barang jualannya didukung teknologi akses internet super cepat, entah itu UMTS ataupun HSDPA. Dalam hati saya langsung komentar, percuma saja gadget canggih bila akses jaringan data di operator masih letoy alias lemot.

Satu kondisi paradok terjadi di industri telekomunikasi kita. Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki tingkat pertumbuhan penggunaan internet tertinggi di dunia. Berbagai survey menyebutkan dalam 10 tahun terakhir tingkat pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia meningkat lebih dari 1000 persen. Dan dari data terakhir menunjukan bahwa ada sekitar 40 juta pengguna internet di Indonesia. Operator telekomunikasi semakin gencar melakukan promosi layanan data di berbagai media massa dan komunitas. Semuanya menawarkan akses internet yang cepat dan murah. Industri gadget juga mendukung usaha peningkatan pelanggan layanan data. Mereka mengeluarkan beragam gadget , untuk akses data, yang semakin banyak, canggih dan murah. Namun disisi lain kita dihadapkan pada kenyataan bahwa layanan data operator yang masih kurang baik. Kondisinya seperti judul sebuah lagu “ Putus – Nyambung” atau seperti kondisi listrik kita yang “Byar-Pet”. Sungguh satu kondisi paradoksal yang sangat disayangkan.

Sebagai bagian masyarakat yang menjadi konsumen layanan data maka saya berharap operator tak hanya sibuk perang harga paling murah demi mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Tolong jangan lupakan kualitas layanan jaringan yang baik pada kami sebagai konsumen Anda. Ah, saya yakin para pemegang keputusan di operator, terutama yang tiga besar, sudah mengetahui kondisi ini. Bukankah keluhan atau omelan seperti yang saya ungkapkan sudah berulangkali disampaikan oleh banyak orang. Betul? Saya hanya dapat berdoa, kebetulan masih Bulan penuh Rahmat, semoga kondisi industri telekomunikasi semakin baik. Dimana operator tak hanya terjebak di perang harga dan memperbanyak pelanggan, tetapi juga mulai memperhatikan kualitas layanannya. Amien!

0 komentar: